Coolturnesia - Gorontalo - Lebih dari empat dekade menekuni sulaman Karawo tidak membuat Karsum Dunda meninggalkan kerajinan khas Gorontalo tersebut. Sejak membuat Karawo pada 1983 saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Karsum hingga kini tetap bertahan sebagai pengrajin.
Karsum mulai belajar Karawo setelah ayahnya meninggal dunia pada 1977. Kondisi ekonomi membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan hingga kelas enam SD dan memilih menekuni keterampilan yang diwariskan orang tuanya secara turun-temurun.
“1983 mulai bikin Karawo, belajar bikin Karawo. Sejak kecil, dari SD,” kata Karsum di Gorontalo.
Usaha Karawo Karsum mulai berkembang pada 2004 dan kemudian menjadi UMKM binaan Bank Indonesia sejak 2010.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan usahanya, terutama melalui bantuan modal dan berbagai pelatihan.
“Saya sangat merasa penjualan meningkat sekali. Sebelum binaan Bank Indonesia belum punya modal. Sejak binaan saya dikasih modal Rp20 juta dan difasilitasi pelatihan,” ujarnya.
Selain permodalan, Karsum memperoleh pelatihan mengenai padu padan warna, teknik mengiris, desain, pengemasan hingga pengelolaan keuangan. Pembinaan tersebut turut membantu keluarganya mengembangkan kemampuan desain Karawo dari yang sebelumnya dilakukan secara manual hingga memanfaatkan referensi digital.
Produk Karawo Karsum yang memiliki nama Sumber Karawo kini tidak hanya dipasarkan di daerah. Ia bahkan pernah mengirim hasil kerajinannya ke Maroko pada sekitar 2013, menunjukkan bahwa sulaman khas Gorontalo tersebut memiliki peluang menembus pasar internasional.
Di usia menginjak 61 Tahun itu, Karsum terus mendorong generasi muda untuk tidak memandang Karawo sebagai pakaian untuk orang tua. Ia menilai perkembangan desain dan hadirnya desainer baru mulai membuat Karawo semakin diminati anak muda.
“Semoga anak-anak muda bisa mencintai Karawo. Sekarang alhamdulillah anak-anak muda sudah mulai mencintai Karawo karena sudah banyak model-model anak muda,” katanya.
Untuk menjaga keberlanjutan Karawo, Karsum berharap pemerintah terus memperkuat pelatihan bagi pengrajin pemula. Ia sendiri ikut mengenalkan teknik Mokarawo kepada 50 siswa SMK Negeri 4 Gorontalo sebelum kegiatan Mokarawo Kolosal yang melibatkan sekitar 300 peserta. Bagi Karsum, regenerasi menjadi kunci agar keterampilan yang telah diwariskan selama puluhan tahun itu tetap hidup di Gorontalo.
Sejak 1983, Karsum Dunda Tetap Bertahan Menekuni Karawo Gorontalo