Seorang anak sedang melakukan tes pendengaran di Apotek Medika, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Kamis, (12/2/2026). Foto: Regina

Coolturnesia – Gorontalo - Forum Komunikasi Orang Tua Anak Hebat (FORKAH) Gorontalo terus mendorong pentingnya deteksi dini gangguan pendengaran anak-anak tuli agar mampu berkomunikasi secara verbal.

Ketua FORKAH Gorontalo, Cindradewi Tangahu, mengatakan komunitas tersebut telah terbentuk sejak 2019 untuk melakukan pendampingan pada orang tua anak tunarungu atau anak tuli.

“Awalnya, FORKAH mewadahi berbagai jenis disabilitas, namun kini lebih memfokuskan diri pada pendampingan orang tua anak tunarungu, kata dia.

Saat ini, kata dia, FORKAH memiliki sekitar 40 anggota yang terdiri dari tujuh anak telah menggunakan implan koklea dan satu anak dijadwalkan segera mengaktifkan alatnya.

Selain itu, terdapat 16 anak pengguna alat bantu dengar (ABD) dan 17 anak lainnya masih dalam tahap memilih intervensi yang sesuai.

“Sejumlah anak yang telah menjalani intervensi dan terapi rutin menunjukkan perkembangan signifikan,” ungkap dia.

 Ia mengungkapkan Salah seorang anak yang menjalani implan pada usia 1 tahun 8 bulan dan kini, di usia 8 tahun, sudah mampu berkomunikasi verbal serta bersekolah di taman kanak-kanak swasta.

“Dengan teknologi alat bantu dengar dan terapi yang konsisten, banyak anak yang akhirnya bisa berbicara. Itu yang menjadi semangat kami untuk terus bergerak,” katanya.

Kata dia, hingga saat ini, daerah tersebut belum memiliki alat deteksi gangguan pendengaran yang lengkap, seperti OAE (Otoacoustic Emissions) yang harganya berkisar Rp80–100 juta, serta alat tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry) yang nilainya bisa mencapai setengah miliar rupiah atau lebih.

Cindradewi menjelaskan bahwa penentuan derajat gangguan dengar tidak dapat dilakukan hanya dengan diagnosis umum, melainkan melalui serangkaian pemeriksaan seperti OAE, ASSR/SSR, audiometri, timpanometri, hingga BERA.

“Deteksi yang tepat itu harus melalui tahapan pemeriksaan lengkap, bukan sekadar perkiraan. Minimal anak memiliki hasil OAE sebagai syarat keanggotaan di komunitas kami,” jelasnya.

Dia mengatakan selama ini, anak-anak yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan dirujuk ke Rumah Sakit Kandou Manado yang telah memiliki fasilitas tersebut, atau bahkan ke Makassar.

FORKAH yang merupakan komunitas mandiri juga mengandalkan dukungan vendor untuk membantu pelaksanaan pemeriksaan dengan biaya minimal. Di sejumlah daerah lain, layanan ini telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, namun di Gorontalo fasilitas tersebut belum tersedia.

“Kami berharap pemimpin daerah bisa memberi perhatian lebih, karena semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang anak-anak untuk berkembang dan mampu berbicara. Itu yang menjadi fokus dan perjuangan kami,” pungkasnya.

Salah seorang orang tua anak tunarungu Greysinta Lahimi mengatakan komunitas ini sangat-sangat membantu orang tua yang memiliki anak tunarungu.

“anak saya memiliki gangguan pendengaran berat yang terdeteksi sekitar umur 1 tahun dan langsung melakukan operasi implan,” ungkap dia.

Ia menambahkan selama mengikuti Forum itu, sekarang anaknya dapat berbicara secara verbal dan bersekolah di salah satu sekolah swasta di Gorontalo. 

0 Comments

Leave A Comment