Coolturnesia - Gorontalo - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat perekonomian daerah mengalami deflasi sebesar 0,34 persen pada Agustus 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo Agus Sudibyo mengatakan deflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah komoditas yang memiliki bobot konsumsi cukup besar di masyarakat.
“Di bulan Agustus terjadi deflasi 0,34 persen. Artinya, dibandingkan dengan bulan Juli terjadi penurunan harga barang dan jasa,” kata Agus.
Menurut dia, komoditas yang memberikan pengaruh besar terhadap terjadinya deflasi antara lain tomat dan bawang merah. Penurunan harga kedua komoditas tersebut cukup signifikan sehingga turut menekan angka inflasi daerah.
“Komoditas yang turunnya besar itu adalah tomat dan bawang merah. Kalau tomat dan bawang merah turunnya besar, maka peluang terjadinya deflasi juga besar,” ujarnya.
Meski pada Agustus terjadi deflasi, Agus memastikan kondisi inflasi Gorontalo secara kumulatif atau year-to-date (YtD) masih berada dalam batas yang terkendali.
BPS mencatat inflasi Gorontalo secara kumulatif hingga Agustus 2026 mencapai 2,48 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen.
Di sisi lain, Agus mengakui harga cabai rawit mengalami kenaikan cukup tinggi pada Agustus 2026. Namun, kenaikan tersebut masih dapat dikompensasi oleh penurunan harga tomat dan bawang merah.
Agus menjelaskan, ketiga komoditas tersebut memiliki peranan penting dalam dinamika harga pangan di Gorontalo. Fluktuasi harga bawang merah, cabai rawit, dan tomat kerap memengaruhi pergerakan inflasi maupun deflasi daerah.
Sementara itu, dari sisi inflasi tahunan atau year-on-year (YoY), Agus mengatakan komoditas emas masih menjadi salah satu penyumbang kenaikan harga..
BPS Gorontalo: Deflasi Agustus 0,34 Persen, Inflasi Kumulatif Masih Terkendali