Salah satu tokoh masyarakat Hanan Zees, di Yosonegoro, Kabupaten Gorontalo, Kamis (26/3/2026).

Coolturnesia – Yosonegoro - Masyarakat Suku Jawa Tondano (Jaton) di Desa Yosonegoro, Kabupaten Gorontalo, terus menjaga kelestarian tradisi Lebaran Ketupat yang telah mengakar kuat sejak tahun 1912.

"Sejak tahun 1912 sampai sekarang, tradisi ini terus dilakukan oleh anak cucu. Ini adalah warisan yang tidak boleh terputus," ujar salah satu tokoh masyarakat Hanan Zees, di Yosonegoro, Kamis.

Ia mengatakan hidangan ketupat dan dodol menjadi menu utama yang wajib disajikan kepada setiap tamu. Makanan yang dodol yang dibungkus secara tradisional menggunakan daun woka.

Kata dia, proses pembuatan dodol ini pun memerlukan ketelatenan tinggi, di mana adonan harus diaduk terus-menerus selama kurang lebih delapan jam di atas tungku kayu api agar tidak hangus.

Menurutnya tradisi ini lebih dari sekadar jamuan makan, Lebaran Ketupat di Yosonegoro mengusung filosofi berbagi tanpa batas. Masyarakat setempat menerapkan sistem open house bagi siapa saja yang datang tanpa perlu adanya undangan resmi.

"Tujuannya adalah bersedekah dan berbagi rezeki. Sesuai pesan orang tua, jangan sampai menutup rumah. Apa pun kemampuan kita, walau hanya air minum, itu yang kita berikan kepada tamu," kata Hanan menjelaskan amanah leluhurnya.

Perayaan tersebut, kata dia, dimulai setelah pelaksanaan doa bersama di masjid pada pagi hari yang ditandai dengan bunyi beduk. Meskipun tradisi Lebaran Ketupat telah meluas dan diikuti oleh berbagai desa lain di Provinsi Gorontalo, Desa Yosonegoro tetap menjadi episentrum sejarah dan rujukan utama pelaksanaan tradisi tersebut.

Melalui konsistensi ini, masyarakat Jaton berharap nilai-nilai luhur mengenai ketulusan dan persaudaraan dapat terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak lekang oleh waktu.

0 Comments

Leave A Comment