Cooltunesia - Kabila Bone - Tim Hisab Rukyat Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Gorontalo melaporkan bahwa hilal tidak terlihat dalam pemantauan yang dilakukan di Desa Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kamis.
Ketua Tim Rukyatul Hilal Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo, Safriyanto Kaawoaan, menjelaskan bahwa meskipun posisi hilal secara perhitungan astronomis sudah berada di atas ufuk, namun kondisi cuaca di lokasi pemantauan tidak mendukung visualisasi.
"Hasilnya, ketinggian hilal sebelum terbenam tadi berada pada 1,9 derajat dengan elongasi 5,1 derajat. Hilal sempat berada di atas ufuk selama kurang lebih 7 menit," ujar Safriyanto.
Ia menambahkan, tim telah berupaya melakukan pelacakan (tracking) dan pengambilan gambar menggunakan perangkat yang tersedia. Namun, gumpalan awan yang cukup tebal di garis cakrawala menghalangi pandangan tim di lapangan.
"Kami benar-benar tidak bisa menangkap citra hilal tersebut karena faktor awan yang tebal. Jadi, hasil akhir dari kegiatan di Botubarani ini adalah hilal tidak teramati," tegasnya.
Data hasil pemantauan ini segera dikirimkan ke Kementerian Agama Pusat di Jakarta sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama.
Kata dia, laporan dari Gorontalo akan digabungkan dengan hasil pemantauan dari berbagai titik di seluruh provinsi Indonesia.
Terkait penetapan 1 Syawal, Safriyanto mengimbau masyarakat untuk tetap menunggu keputusan resmi pemerintah.
Menurutnya, jika ada daerah lain di Indonesia yang berhasil melihat hilal dan dinyatakan sah, maka awal bulan baru bisa saja ditetapkan malam ini. Namun, jika seluruh titik melaporkan hasil yang sama (tidak terlihat), maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Pemkab Gorontalo Gelar Tonggeyamo Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada 21 Maret 2026